Tampilkan postingan dengan label Cariyos Ringgit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cariyos Ringgit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

Satriya Kusuma Yudha


Satriya Kusuma Yudha

            Dimulai dengan penggambaran keadaan pada saat itu, matahari yang mulai menyinari jagad raya. Di tempat lain, di negeri Astina sedang terjadi  ketegangan,yaitu perebutan kekuasaan oleh Kurawa dan Pandawa. Sampai tidak dapat dicegah lagi, pecahlah perang antar keluarga Bharata yaitu Bharatayuda di medan Kurusetha. Abimayu putra Arjuna maju perang melawan para Kurawa, namun di tengah peperangan, kuda yang ditunggangi Abimanyu terkena dari para Kurawa, dan mati, kemudian  para Kurawa menyerang Raden Abimanyu dengan panah yang bertubi-tubi, sehingga hampir seluruh tubuhnya tertancap berpuluh-puluh panah. Dalam kondisi yang tidak berdaya seperti itu Sang Raden masih bisa bertahan dan mencoba untuk melawan para Kurawa, dalam kondisi  seperti itu pula, dari pihak Kurawa yaitu Lesmana mengumpat-umpat Raden Abimanyu, dan berkeinginan untuk merebut istri Raden Abimanyu, Siti Sundari, Dewi Uttari yang kala itu tengah hamil tua. Raden Abimanyu sekali, dalam kondisi seperti yang bagi orang lain tidak akan bisa bertahan sampai sejauh itu, tetap tegar. Karena tidak tega melihat derita yang dialami keponakannya, Raden Karna yang merupakan pihak Kurawa, berniat untuk mengakhiri segala penderitaan sang keponakan dengan memanah leher sang Abimayu, akhirnya sang Abimayu meninggal.
            Arjuna yang kala itu melihat putranya gugur, seketika itu menghampiri jasad sang anak. Arjuna sangat geram dibuatnya , hingga terlontar sumpah dari sang Arjuna bahwa bila ia tidak bisa membunuh orang yang membunuh putranya, maka ia akan pati obong. Para kurawa yang mendengar sumpah Arjuna tersebut merasa bersuka cita, maka dengan itu, kekuatan Pandawa semakin melemah. Maka para Kurawa menyusun siasat agar Arjuna tidak bisa menemukan Jayajatra, dan akhirnya nanti Arjuna akan Pati obong.
            Sedang sang guru Semar memberi wejangan kepada Arjuna, meskipun para Kurawa telah membunuh Abimanyu dengan cara yang keji, namun tidak boleh dibalasnya dengan cara yang keji pula, tidak boleh saling membalas dendam. Maka angkara murka yang ada di bumi tersebut harus ditumpas dengan cara yang bijak, harus tetap menaati peraturan perang Bharatayuda. Itulah laku Ksatria. Segenap Pandawa berduka cita atas kematian Abimanyu.

            Werkudara tidak terima dengan keadaan ini, ia merasa bahwa sang Dewa tidak berlaku adil. Ponakan yang disayanginya harus mati dengan cara seperti itu dan mengapa harus keponakannya. Werkudara berniat untuk melawan Duryudana. Kemudian Prabu Kresna memberikan wejangan, bahwa sebagai manusia yang mempunyai sifat ksatria itu tidak boleh mengumpat kodrat yang sudah ditentukan. Satria itu berasal dari kata “sa” yang berarti agama, “tri” yang berarti moral, sedangkan “ya” berarti rasa malu. Seorang ksatria harus memiliki ketiga kategori tersebut.
            Untuk keesokan harinya, perang Bhartayuda akan segera dimulai kembali. Dipihak Kurawa terdapat prabu Karna, Duryudana, Dursasana sedang menyusun siasat agar hari ini jangan sampai Jayajatra terlihat oleh Arjuna. Sedang pada pihak Pandawa, prabu Werkudara sedang berdebat dengan prabu Kresna, mengenai pengganti Senapati perang, prabu Kresna menginginkan Gathutkaca untuk menjadi senapati perang, sedang raden Werkudara tidak merelakan putranya untuk maju menjadi senapati. Sedangkankan sang Gathutkaca bersedia untuk maju perang, Gathutkaca mendapat dari sang ayah, namun niatnya sudah bulat untuk maju ke medan perang.

            Di medan Kuruseta sedang berlangsung perang, sang Arjuna mencari pembunuh putranya, sedangkan sang Jayajatra sudah disembunyikan oleh sang Kurawa. Hari sudah semakin sore, oleh karena bantuan prabu Kresna dengan menggunakan cakra yang menjadikan langit serta merta gelap seperti malam. Jayajatra yang beranggapan benar-benar malam, mencoba melihat kearah luar, bersamaan dengan keluarnya kepala Jayajatra, panah pasopati melesat cepat menyambar Jayajatra. Seketika itu sang Jayajatra tewas seketika terkena panah pasopati, setelah peristiwa itu, suasana kembali seperti semula seperti sebelumnya, langit berubah menjadi terang kembali.

Pandawa Piningit

 Pandawa Piningit

            Dimulai dari hutan Kamiyaka, Pandawa sedang dalam masa pembuangan selama 12 tahun. Seluruh Brahmana resi selalu mengiringi perjalanan Pandawa. Digambarkan seakan-akan seluruh alam turut merasakan kesengsaraan Pandawa. Dewi Drupadi sudah kuat lagi dengan penderitaan yang tengah dirasakan, kemudian melinangkan air mata. Dewi Drupadi mengeluh. Sedang Puntadewa berdo’a kepada sang Tuhan agar senantiasa diberikan keselamatan. Sang Arjuna juga turut berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Drupadi akhirnya juga turut berdo’a agar diberikan keteguhan.
            Bratasena tidak terima dan sakit hati dengan keadaan ini, Bratasena sangat membenci Kurawa. Menurut Bratasena, mengapa kakak iparnya Drupadi juga ikut serta dibuang dengan mereka, kalau hanya para Pandawa, itu tidak akan jadi suatu masalah.
            Puntadewa memberi nasehat agar Bratasena tidak lepas kendali, dapat menahan nafsu amarahnya. Puntadewa mengatakan bahwa sudah menjadi kewajiban seorang wanita untuk berbakti dan ikut dengan suami. Bratasena menyalahkan kakaknya tersebut, karenanyalah kalah bermain judi, akhirnya mereka harus dihukum buang. Sedang Arjuna  mengatakan bahwa kesengsaraan mereka alami, akibat kelicikan dari paman mereka, Sengkuni dan juga sifat buruk dari Duryudana serta Dursasana.
            Bratasena berkeinginan untuk menyerang Kurawa, tidak perlu menunggu sampai genap 13 tahun. Namun Puntadewa mencegah dan menyarankan agar sebaiknya meneruskan perjalanan.
            Ditengah perjalanan, Nakula, Sadewa meminta untuk istirahat sejenak dan minum air yang ada di danau. Puntadewa mengijinkan  Nakula, Sadewa, Arjuna dan Bratasena untuk minum air yang ada di danau, mudah-mudahan bisa menghilangkan dahaga mereka.
            Namun tanpa diduga-duga, keempatnya meregang karena terkena racun air danau. Puntadewa mengadu kepada Dewa. Seorang Brahmana tua mendekati Pandawa, kemudian sang Brahmana bertanya, apa yang sesungguhnya terjadi. Kemudian Puntadewa menjawab bahwa keempat saudaranya tewas setelah meminum air yang ada di danau.
            Sang Brahmana memberikan wejangan, bahwa dari kejadian tersebut, air yang bening bisa dijadikan gambaran sebagai keindahan alam yang tampak begitu sangat indah, namun belum tentu bermanfaat bagi kita. Sang Bathara bertanya kepada Puntadewa, bila seandainya ia bisa menghidupkan kembali salah satu dari keempat saudaranya, siapa yang akan Puntadewa pilih. Lalu Puntadewa memilih Sadewa, dengan alasan ingin bertindaka adil agar kedua ibunya bisa mempunyai keturunan. Sang Brahmana kagum akan keluhuran budi Puntadewa.
            Seketika itu Brahmana tua berubah wujud menjadi Dewa Dharma. Puntadewa beserta Drupadi menghormat kepada Dewa Dharma. Dewa Dharma mengabulkan permintaan Puntadewa, menghidupkan kembali keempat saudaranya. Dipercikan olehnya air suci kehidupan. Keempatnya dapat hidup kembali dan mengucapkan termakasih kepada Dewa Dharma. Dewa Dharma meminta Pandawa untuk menepati janji agar jangan sampai ketahuan selama masa hukuman. Melaksanakan 12 tahun di hutan lalu 1 tahun penyamaran. Segala penderitaan dianggap saja sebagai ujian keteguhan hati, agare dapat mempertebal keimanan kepada Sang Maha Tunggal. Tidak boleh gentar menghadapi hadangan.
            Dewa Dharma akan merubah Pandawa dan memerintahkannya agar pergi ke Wirata dan mengabdi disana, kepada prabu Matswapati. Para Pandawa sanggup untuk menjalankan perintah. Dewa Dhrama mengubah Puntadewa menjadi Mantri Pasar, Bratasena menjadi penjagal, Arjuna menjadi waria, Nakula Sadewa menjadi pengembala, sedang Drupadi menjadi dayang.
            Sang Arjuna menghadap Dewa Dharma, dia tidak terima dengan apa yang diberikan kepadanya. Dewa Dharma memberikan wejangan, bahwa semua itu merupakan sebuah karma karena dulu Arjuna menolak bercinta dengan dewi Utari. Dewa Dharma mengatakan kepada Arjuna, bahwa semua itu jangan dijadikan sebagai penyesalan.
            Pasukan prabu Susarman dari negara Trigata, bersekutu dengan Astina bersiap menyerang Wirata. Prabu Susarman berkata kepada kedua patihnya yaitu Bogadata dan Bogadati, bahwa ada perintah penting dari prabu Duryudana untuk segera menyerang Wirata.
            Sedang di tempat lain, prabu Duryudana beserta para panglima Astina menyuruh agar semua menyiapkan pasukan. Kemudian prabu Duryudana menanyakan keberadaan para Pandawa, sedang sang Bisma menjawab pertanyaan dari sang cucu, bila hendak mencari keberadaan mereka, itu mudah, karena sudah ada ciri-cirinya. Bilamana ada sebuah tempat yang orang-orangnya mempunyai pekerti yang luhur maka disitula terdapat Puntadewa, bilaman disuatu daerah para penjahat menemui ajalnya, disitulah terdapat Bratasena, bilamana ada suatu tempat yang indah, makmur, penduduknya taat beribadah, berbudaya disitulah Arjuna bernaung. Bilamana adasebuah tempat dimana daerah tersebut kaya raya, hasil pertaniannya melimpah, serta banyak peternakan maka disitulah terdapat Nakula dan juga Sadewa.
            Sedang menurut Raden Karna bahwa perkara menemukan para Pandawa adalah nomor dua, yang terpenting sekarang adalah dapat segera mengalahkan Wirata untuk menambah kekuatan pada perang Bharatayuda. Duryudana minta diri pada Bisma untuk pergi ke medan perang. Bisma akan tempat tinggal dan menunggu di pertapan Talkanda.
            Di tempat lain, Puntadewa mengajak bicara adiknya yaitu Bratasena yang menyamar menjadi Bilawa, bahwa Prabu Matswapati sedang mengalami kesulitsn menghadapi serangan daripada pihak Kurawa. Puntadewa meminta Bilawa agar dapat membantu prabu Matswapati. Bilawa menolak permintaan dari sang kakak, karena menurutnya hanya kurang dua hari masa hukuman itu akan berakhir, bila sampai ketahuan oleh Kurawa, maka mereka akan dihukum kembali selama 13 tahun kembali. Sang Puntadewa mengancan akan pati obong bila Bilawa tidak mau membantu prabu Matswapati. Akhirnya Bilawa mau menuruti perintah dari Puntadewa.
            Negara Wirata terkepung pasukan musuh. Terjadilah perang antara raden Utara melawan prajurit, sedang raden Seta melawan patih Bogadata dan Bogadati. Pabu Matswapati berhadapan dengan prabu Susarman. Pihak Wirata hampir mengalami kekalahan, pada saat yang seperti itu, datang Bilawa menyamar menjadi pohon besar, pasukan Trigata dibuatnya kaget dengan kedatangan pohon besar itu. Pihak Trigata mengalami kekalahan.
            Sampai pada adegan gara-gara, seperti biasa Bagong dan Petruk saling menyatakan pendapat, datanglah Gareng mendamaikan keduanya dan memberi nasihat bahwa keduanya tidak boleh merasa lebih pintar, lebih mampu. Kemudian datang Semar yang memberikan wejangan agar tidak melakukan ma-lima, yaitu madon ( berzina ), main (berjudi ), minum ( minum minuman keras ), madat ( menggunakan Narkoba atau obat-obatan terlarang ), maling (mencuri ).
            Terjadi perang kembang, Wrehatnala atau Arjuna melawan musuh dari pihak Kurawa, namun Wrehatnala berhasil memukul mundur lawan.
            Adegan taman Wirata, Wrehatnala sedang melatih tari dewi Utari dan dayang-dayang.  Kebudayaan di Wirata begitu maju berkat keikhlasan dharma bhakti tanpa pamrih dari sang Wrehatnala. Datanglah dewi Sudesna diiringi Salindri. Dewi Sudesna bertanya kepada Salindri, apakah benar suami Salindrilah yang telah membunuh adik dewi Sudesna, Kincakarupa. Salindri mengiyakannya, dewi Sudesna marah dan mengusir Salindri. Disaat seperti itu, datanglah raden Wratsangka, Wratsangka melapor bahwa Wirata sudah terkepung dan meminta ibunya agar bersedia mengungsi dari Wirata. Sang ibu menolaknya, ia kecewa pada Wratsangka karena itu bukan laku seorang Ksatria. Wratsangka berdalih bahwa itu karena kusir semuanya telah mati di medan perang. Salindri kemudian mengajukan pendapat agar wrehantala saja yang dijadikan kusir raden Wratsangka. Raden Wratsangka ragu karena Wrehantala hanya seorang waria, hanya bisa menari. Namun Wrehantala berusaha untuk meyakinkan raden Wratsangka bahwa dahulu ia pernah menjadi kusir Arjuna, bertambah heran Wratsangka kepadanya, namum dewi Sudesna menyarankan agar Wratsangka mencoba. Lalu segera berangkat keduanya menuju medan perang.
            Di tengah perjalanan, Wratsangka gentar hatinya demi melihat pasukan musuh yang berjumlah sangat banyak dan mempunyai kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Raden Wratsangka memerintahkan Wrehantala untuk memutar balik keretanya dan pulang kembali ke Wirata. Wrehantala menjambak rambut Wratsangka agar tidak melarikan diri. Wratsangka marah dibuatnya, Wrehantala meminta maaf pada Wratsangka, bukan maksud hati bertindak seperti itu, namun demi Wirata, mereka harus tetap maju, namun Wratsangka kecut hatinya. Kemudian Wrehantala menyarankan untuk tukar posisi, Wratsangka menjadi kusir sedangkan Wrehantala menjadi senapati. Wratsangka dibuatnya terheran-heran. Karena kondisi semakin mendesak, Wratsangka bersedia tukar posisi. Wrehantala mengambil senjata. Wratsangka kembali kaget setelah dilihatnya senjata-senjata Pandawa. Wrehantala menjelaskan bahwa dahulu ia diamanati untuk menjaga pusaka-pusaka itu. Wrehantala disuruhnya memilih salah satu dari pusaka-pusaka tersebut. Lalu Wrehantala memilih Gandewa. Tak henti-hentinya Wratsangka heran, karena yang dapat membentangkan senjata itu hanyalah cucunya, Arjuna. Disuruhnya untuk membentangkan Gandewa. Dan dari situlah dapat diketahui bahwa Wrehantala adalah Arjuna itu sendiri, Wratsangka merasa bersalah karena selama di Wirata, ia sudah memperlakukan Arjuna dengan kurang baik. Lalu arjuna menceritakan mengapa ia melakukan semua itu. Keduanya kemudian maju perang, Arjuna membentangkan Gandewanya. Kurawa dibuatnya kocar-kacir mendapat serangan panah dari Arjuna. Drona menangkap salah satu panah, ia tahu siapa pemilik dari panah itu dan memilih untuk kembali ke Istana. Duryudana terkena panah. Karna menagkap salah satu panah, ia kemudian tahu, bahwasanya saudara Pandawa berlindung di Wirata, ia berjanji tidak akan berkata kepada siapapun mengenai keberadaan mereka dan memilih untuk kembali ke Awangga.
            Adegan kerajaan Wirata. Prabu Matswapati, permaisuri dan segenap para punggawa merasa sangat bangga karena Wratsangka telah berhasil memukul mundur pihak musuh. Namun di tengah kebahagiaan itu, Dwijangka yang sejatinya adalah Puntadewa mengatakan yang sebenarnya, bahwa yang berhasil menghalu musuh sebenarnya bukan Wratsangka, namun Wrehantala. Prabu Matswapati seketika marah dan memukul Dwijangka dengan bokor, dari dahinya keluar darah putih, Salindri menampung darah putih dan berlinang airmata, mereka kemudian diusir. Belum hilang kemarahan prabu Matswapati, datanglah Wratsangka. Prabu kembali sumringah demi dilihatnya putranya yang dia dyga telah berhasil menghalau musuh. Namun seperti apa yang telah nyata terjadi, bahwa yang telah berhasil menghalau musuh itu bukanlah Wratsangka sendiri, namun Wrehantala. Prabu terheran-heran akan apa yang didengarnya, tidak percaya, dikiranya Wratsangka tengah berpura-pura.

            Pandawa dan Drupadi memasuki istana Wirata. Keenamnya sekarang mengakui penyamaran yang telah mereka lakukan. Prabu Matswapati merasa sangat menyesal, karena orang-orang yang telah disakitinya dalah cucunya sendiri para Pandawa dan kemudian maaf kepada para Pandawa.

Sri Boyong


                                                            Sri Boyong

            Cerita dimulai dari negeri yang bernama Amarta yang tengah mengalami bencana besar, karena ditinggalkan oleh Dewi Sri, putri dari prabu Maha Punggung. Bencana kekeringan, kekurangan pangan terjadi dimana-mana. Kepergian Dewi Sri dari negeri Amarta oleh karena para pemimpinnya sudah tidak lagi berlaku adiluhung, tidak lagi melaksanakan pitutur luhur, tidak memperhatikan bab kautaman, para pemimpin hanya memikirkan dirinya sendiri dan banyak lagi masalah yang dialami oleh para pemimpim negeri Amarta.
            Dewi Sri adalah lambang dari kemakmuran.dewi Sri sering disebut dengan dewi padi. Dimana suatu daerah bersemayam Dewi Sri maka daerah tersebut akan makmur, hasil bumi yang melimpah. Karena keluhuran budi Dewi Sri, banyak para raja dan juga para Ksatria ingin meminangnya, termasuk pula dari kalangan raksasa, para raksasa tersebut datang ke negeri Amarta untuk mencari Dewi Utari dan berbuat kerusuhan disana.
            Mengetahui keadaan negerinya yang yang tengah rusuh, prabu Kresna tidak tinggal diam, segera diambilnya tindak tanggap untuk mengatasi masalah ini. Prabu Kresna berunding dengan Prabu Yudhistira tentang bagaimana menyelesaikan masalah. Akhirnya diutuslah para putra Pandawa guna mencari Dewi Sri. Diantaranya adalah Gathotkaca, Antasena, Bambang Probo Kusuma, Raden Setyaki serta Punakawan juga ikut serta dalam pencarian ini.
            Sedang yang dicari yaitu Dewi Sri tengah berada di negara Pratalaretna yang dikuasai oleh raja Darmasara. Dicarinya Dewi Sri ke penjuru negeri namun para utusan tidak dapat menemukan keberadaan Dewi Sri. Kemudian Bambang kusuma meminta bantuan kepada Bathara Indra. Oleh Bathara Indra diberikan tunggangan dari Sang Indra yaitu jatayu agar bisa memasuki negeri Pratalaretna.  
            Sampai pada negara Pratalaretna, Bambang Kusuma bertemu dengan putra Prabu Seran Trenggono yang bernama Prabu Nilataksaka. Prabu Nilataksaka bermaksud ingin meminang Dewi Sri dan ingin menjadikan Dewi Sri sebagai permaisurinya tetapi Dewi Sri menolak. Terjadi pertempuran antara Bambang Kusuma dengan Prabu Nilataksaka. Prabu Nilataksaka berubah wujud menjadi seekor Naga dan mengalahkan Bambang Kusuma, tetapi Garuda pemberian Sang Batara Indra menolongnya. Naga Taksaka dipotong menjadi dua dan kalah olehnya.
Kemudian datanglah Semar membujuk Dewi Sri agar berkenan kembali ke Negara Amarta. Dengan syarat agar rakyat Amarta mau bersyukur kepada Hyang Widhi, serta menjalankan laku luhur, agar mau memperbaiki diri .
Mengetahui kembalinya Dewi Sri ke Negeri Amarta Prabu Seran Trenggono pergi ke Negeri Amarta dan bertemu dengan Bima. Maka terjadilah peperangan hebat yang akhirnya dimenangkan oleh Bima dan Prabu Seran Trenggono menjadi kayu tua.
            Setelah itu Naga Taksaka memohon terhadap Kresna untuk dikembalikan wujudnya, Kresna menyanggupi asalkan ia menjadi ular dan mengusir hama yang bisa merusak tanaman para petani. Padi disini adalah perlambang dari Dewi Sri, meskipun Naga Taksaka tidak bisa menjadi suami Dewi Sri, namun ia bisa menjaga Dewi Sri.

            Negeri kembali makmur sejahtera rakyatnya seperti sediakala sebelum kepergian Dewi Sri.

Bambang Ekalaya


Bambang Ekalaya

            Diceritakan ada seorang bernama Bambang Ekalaya yang sedang mencari seorang guru. Bambang Ekalaya sangat ingin belajar, berguru. Dia mendengar cerita tentang seorang guru bernama Dorna, guru para putra keluarga Bharata. Dia sangat tertarik dengan guru Dorna dan sangat igin sekali menjadi murid dari guru Dorna. Dicarinya Dorna dengan susah payah, ditempuhnya dengan perjalanan yang sangat panjang. Semua itu dijalaninya demi dapat menjadi murid seorang Dorna, apapun akan ia lakukan. Sampai pada negri Astina, Bambang Ekalaya mengutarakan maksutnya untuk bisa jadi murid sang Dorna.
            Dorna yang memiliki sifat kurang terpuji, yaitu hanya mau menerima murid dari kalangan ksatriya, anak-anak para pembesar, melihat seseorang yang sama sekali bukan termasuk dari kalangan ningrat langsung ditolaknya untuk bisa menjadi muridnya. Namun Bambang Ekalaya tidak begitu saja menyerah dengan keadaan, ia berjanji akan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh sang Dorna demi bisa berguru dengan guru Dorna. Lalu Dorna berkata, yang sebenarnya ingin melenyapkan Bambang Ekalaya, ia berkata bahwasanya ia ingin menjadi muridnya, maka ia harus memotong jari kelingkingnya.
            Demi baktinya sang Ekalaya kepada guru Dorna, maka ia rela untuk memotong jari kelingkingnya. Namun tidak berhenti sampai sini sang Ekalaya untuk bisa menjadi murid sang Dorna. Diusirnya Bambang Ekalaya, namun bagi Bambang Ekalaya itu bukan sebagai pengusiran atas dirinya, namun itu sebagai titah dari sang guru.
            Pergilah Bambang Ekalaya guna memenuhi permintaan dari guru Dorna. Ditengah hutan yang lebat. Disitulah Bambang Ekalaya benar-benar menempa diri, karena sangat berbaktinya kepada guru Dorna, maka ia membuat patung sebagai pengganti gurunya yang tidak bisa mengajarinya langsung. Dihadapan patung gurunya itulah, Bambang Ekalaya berlatih, seakan-akan guru Dornalah yang mengajarinya.
            Bertahun-tahun lamanya Bambang Ekalaya belajar, hingga kemampuannya menyamai kemampuan dari murid-murid yang diajarnya secara langsung.
            Hingga pada suatu ketika, Arjuna, murid dari guru Dorna sedang berburu di hutan dimana Bambang Ekalaya tinggal. Ketika panah Arjuna mengenai buruannya, pada saat yang sama juga, ada panah milik orang lain yang juga mengenai binatang buruannya. Panas hati Arjuna demi melihat ada panah orang lain yang mengenai binatang buruannya. Ditantangnya Bambang Ekalaya untuk mengadu ketangkasan memanah. Keduanya mengerahkan segala kemampuan mereka dalam ketangkasan memanah.
            Ketangkasan Arjuna masih kalah dengan Bambang Ekalaya, ternyata Bambang Ekalaya lebih unggul daripada Arjuna. Panas hati Arjuna, padahal gurunya, sang Dorna pernah berkata bahwa dirinyalah pemanah yang paling hebat, namun pada kenyataanya mengapa ada orang lain yang jauh lebih tangkas dari dirinya, dan sekarang ada sesesorang yang mengaku murid dari Dorna, lalu sang Arjuna berpikir bahwa guru Dorna benar-benar memilki murid lain. Pulanglah ia ke istana dan melaporkan segala yang dialaminya itu kepada gurunya. Guru Dorna heran demi mendengar perkataan muridnya. Ia sangat ingin tahu, siapa yang berani mengungguli kemampuan dari muridnya sendiri. Lalu ditanyainya dimana ia bertemu dengan seorang yang mengaku murid dari dirinya. Arjuana menjawab, bahwa ia tinggal disuatu hutan.
            Berangkatlah Arjuna beserta guru Dorna untuk menemui orang yang mengaku sebagai murid Dorna. Berbahagialah Bambang Ekalaya melihat guru idamannya datang mengunjunginya. Awalnya sang Dorna tidak mengingat Bambang Ekalay, namun setelah diceritakan oleh Ekalaya, bahwa ia yang pernah datang pada guru Dorna untuk meminta menjadi gurunya, guru Dorna barulah sadar.

            Guru Dorna mulai menyusun siasat agar bisa melenyapkan Bambang Ekalaya agar tidak menjadikan kecewa murid kesayangannya yaitu Arjuna. Disuruhnya keduaya untuk mengadu ketangkasan bermain panah dihadapan guru Dorna. Pada awalnya, Bambang Ekalaya selalu lebih daripada Arjuna, kemudian guru Dorna tahu dimana letak kekuatan dari Bambang Ekalaya, yaitu pada cincin, yaitu cincin Ampal yang dipakai oleh Bambang Ekalaya. Guru Dorna menginginkan cincin tersebut, Bambang Ekalaya rela menyerahkan cincin tersebut yang sejatinya merupakan pusakanya kepada guru Dorna. Disinilah Bambang Ekalaya terkalahkan oleh Arjuna. Kemudian Bambang Ekalaya diperintahkan untuk merendam diri, disitulah Bambang Ekalaya kemudian meninggal. Arwah Ekalaya bersumpah bahwa ia akan menjemput Dorna agar bisa bersama-sama dengan guru Dorna, yang nantinya guru Dorna akan mati ditangan Drestajumena karena sumpah dari Bambang Ekalaya.