Laman

Selasa, 10 Juni 2014

Pandawa Piningit

 Pandawa Piningit

            Dimulai dari hutan Kamiyaka, Pandawa sedang dalam masa pembuangan selama 12 tahun. Seluruh Brahmana resi selalu mengiringi perjalanan Pandawa. Digambarkan seakan-akan seluruh alam turut merasakan kesengsaraan Pandawa. Dewi Drupadi sudah kuat lagi dengan penderitaan yang tengah dirasakan, kemudian melinangkan air mata. Dewi Drupadi mengeluh. Sedang Puntadewa berdo’a kepada sang Tuhan agar senantiasa diberikan keselamatan. Sang Arjuna juga turut berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Drupadi akhirnya juga turut berdo’a agar diberikan keteguhan.
            Bratasena tidak terima dan sakit hati dengan keadaan ini, Bratasena sangat membenci Kurawa. Menurut Bratasena, mengapa kakak iparnya Drupadi juga ikut serta dibuang dengan mereka, kalau hanya para Pandawa, itu tidak akan jadi suatu masalah.
            Puntadewa memberi nasehat agar Bratasena tidak lepas kendali, dapat menahan nafsu amarahnya. Puntadewa mengatakan bahwa sudah menjadi kewajiban seorang wanita untuk berbakti dan ikut dengan suami. Bratasena menyalahkan kakaknya tersebut, karenanyalah kalah bermain judi, akhirnya mereka harus dihukum buang. Sedang Arjuna  mengatakan bahwa kesengsaraan mereka alami, akibat kelicikan dari paman mereka, Sengkuni dan juga sifat buruk dari Duryudana serta Dursasana.
            Bratasena berkeinginan untuk menyerang Kurawa, tidak perlu menunggu sampai genap 13 tahun. Namun Puntadewa mencegah dan menyarankan agar sebaiknya meneruskan perjalanan.
            Ditengah perjalanan, Nakula, Sadewa meminta untuk istirahat sejenak dan minum air yang ada di danau. Puntadewa mengijinkan  Nakula, Sadewa, Arjuna dan Bratasena untuk minum air yang ada di danau, mudah-mudahan bisa menghilangkan dahaga mereka.
            Namun tanpa diduga-duga, keempatnya meregang karena terkena racun air danau. Puntadewa mengadu kepada Dewa. Seorang Brahmana tua mendekati Pandawa, kemudian sang Brahmana bertanya, apa yang sesungguhnya terjadi. Kemudian Puntadewa menjawab bahwa keempat saudaranya tewas setelah meminum air yang ada di danau.
            Sang Brahmana memberikan wejangan, bahwa dari kejadian tersebut, air yang bening bisa dijadikan gambaran sebagai keindahan alam yang tampak begitu sangat indah, namun belum tentu bermanfaat bagi kita. Sang Bathara bertanya kepada Puntadewa, bila seandainya ia bisa menghidupkan kembali salah satu dari keempat saudaranya, siapa yang akan Puntadewa pilih. Lalu Puntadewa memilih Sadewa, dengan alasan ingin bertindaka adil agar kedua ibunya bisa mempunyai keturunan. Sang Brahmana kagum akan keluhuran budi Puntadewa.
            Seketika itu Brahmana tua berubah wujud menjadi Dewa Dharma. Puntadewa beserta Drupadi menghormat kepada Dewa Dharma. Dewa Dharma mengabulkan permintaan Puntadewa, menghidupkan kembali keempat saudaranya. Dipercikan olehnya air suci kehidupan. Keempatnya dapat hidup kembali dan mengucapkan termakasih kepada Dewa Dharma. Dewa Dharma meminta Pandawa untuk menepati janji agar jangan sampai ketahuan selama masa hukuman. Melaksanakan 12 tahun di hutan lalu 1 tahun penyamaran. Segala penderitaan dianggap saja sebagai ujian keteguhan hati, agare dapat mempertebal keimanan kepada Sang Maha Tunggal. Tidak boleh gentar menghadapi hadangan.
            Dewa Dharma akan merubah Pandawa dan memerintahkannya agar pergi ke Wirata dan mengabdi disana, kepada prabu Matswapati. Para Pandawa sanggup untuk menjalankan perintah. Dewa Dhrama mengubah Puntadewa menjadi Mantri Pasar, Bratasena menjadi penjagal, Arjuna menjadi waria, Nakula Sadewa menjadi pengembala, sedang Drupadi menjadi dayang.
            Sang Arjuna menghadap Dewa Dharma, dia tidak terima dengan apa yang diberikan kepadanya. Dewa Dharma memberikan wejangan, bahwa semua itu merupakan sebuah karma karena dulu Arjuna menolak bercinta dengan dewi Utari. Dewa Dharma mengatakan kepada Arjuna, bahwa semua itu jangan dijadikan sebagai penyesalan.
            Pasukan prabu Susarman dari negara Trigata, bersekutu dengan Astina bersiap menyerang Wirata. Prabu Susarman berkata kepada kedua patihnya yaitu Bogadata dan Bogadati, bahwa ada perintah penting dari prabu Duryudana untuk segera menyerang Wirata.
            Sedang di tempat lain, prabu Duryudana beserta para panglima Astina menyuruh agar semua menyiapkan pasukan. Kemudian prabu Duryudana menanyakan keberadaan para Pandawa, sedang sang Bisma menjawab pertanyaan dari sang cucu, bila hendak mencari keberadaan mereka, itu mudah, karena sudah ada ciri-cirinya. Bilamana ada sebuah tempat yang orang-orangnya mempunyai pekerti yang luhur maka disitula terdapat Puntadewa, bilaman disuatu daerah para penjahat menemui ajalnya, disitulah terdapat Bratasena, bilamana ada suatu tempat yang indah, makmur, penduduknya taat beribadah, berbudaya disitulah Arjuna bernaung. Bilamana adasebuah tempat dimana daerah tersebut kaya raya, hasil pertaniannya melimpah, serta banyak peternakan maka disitulah terdapat Nakula dan juga Sadewa.
            Sedang menurut Raden Karna bahwa perkara menemukan para Pandawa adalah nomor dua, yang terpenting sekarang adalah dapat segera mengalahkan Wirata untuk menambah kekuatan pada perang Bharatayuda. Duryudana minta diri pada Bisma untuk pergi ke medan perang. Bisma akan tempat tinggal dan menunggu di pertapan Talkanda.
            Di tempat lain, Puntadewa mengajak bicara adiknya yaitu Bratasena yang menyamar menjadi Bilawa, bahwa Prabu Matswapati sedang mengalami kesulitsn menghadapi serangan daripada pihak Kurawa. Puntadewa meminta Bilawa agar dapat membantu prabu Matswapati. Bilawa menolak permintaan dari sang kakak, karena menurutnya hanya kurang dua hari masa hukuman itu akan berakhir, bila sampai ketahuan oleh Kurawa, maka mereka akan dihukum kembali selama 13 tahun kembali. Sang Puntadewa mengancan akan pati obong bila Bilawa tidak mau membantu prabu Matswapati. Akhirnya Bilawa mau menuruti perintah dari Puntadewa.
            Negara Wirata terkepung pasukan musuh. Terjadilah perang antara raden Utara melawan prajurit, sedang raden Seta melawan patih Bogadata dan Bogadati. Pabu Matswapati berhadapan dengan prabu Susarman. Pihak Wirata hampir mengalami kekalahan, pada saat yang seperti itu, datang Bilawa menyamar menjadi pohon besar, pasukan Trigata dibuatnya kaget dengan kedatangan pohon besar itu. Pihak Trigata mengalami kekalahan.
            Sampai pada adegan gara-gara, seperti biasa Bagong dan Petruk saling menyatakan pendapat, datanglah Gareng mendamaikan keduanya dan memberi nasihat bahwa keduanya tidak boleh merasa lebih pintar, lebih mampu. Kemudian datang Semar yang memberikan wejangan agar tidak melakukan ma-lima, yaitu madon ( berzina ), main (berjudi ), minum ( minum minuman keras ), madat ( menggunakan Narkoba atau obat-obatan terlarang ), maling (mencuri ).
            Terjadi perang kembang, Wrehatnala atau Arjuna melawan musuh dari pihak Kurawa, namun Wrehatnala berhasil memukul mundur lawan.
            Adegan taman Wirata, Wrehatnala sedang melatih tari dewi Utari dan dayang-dayang.  Kebudayaan di Wirata begitu maju berkat keikhlasan dharma bhakti tanpa pamrih dari sang Wrehatnala. Datanglah dewi Sudesna diiringi Salindri. Dewi Sudesna bertanya kepada Salindri, apakah benar suami Salindrilah yang telah membunuh adik dewi Sudesna, Kincakarupa. Salindri mengiyakannya, dewi Sudesna marah dan mengusir Salindri. Disaat seperti itu, datanglah raden Wratsangka, Wratsangka melapor bahwa Wirata sudah terkepung dan meminta ibunya agar bersedia mengungsi dari Wirata. Sang ibu menolaknya, ia kecewa pada Wratsangka karena itu bukan laku seorang Ksatria. Wratsangka berdalih bahwa itu karena kusir semuanya telah mati di medan perang. Salindri kemudian mengajukan pendapat agar wrehantala saja yang dijadikan kusir raden Wratsangka. Raden Wratsangka ragu karena Wrehantala hanya seorang waria, hanya bisa menari. Namun Wrehantala berusaha untuk meyakinkan raden Wratsangka bahwa dahulu ia pernah menjadi kusir Arjuna, bertambah heran Wratsangka kepadanya, namum dewi Sudesna menyarankan agar Wratsangka mencoba. Lalu segera berangkat keduanya menuju medan perang.
            Di tengah perjalanan, Wratsangka gentar hatinya demi melihat pasukan musuh yang berjumlah sangat banyak dan mempunyai kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Raden Wratsangka memerintahkan Wrehantala untuk memutar balik keretanya dan pulang kembali ke Wirata. Wrehantala menjambak rambut Wratsangka agar tidak melarikan diri. Wratsangka marah dibuatnya, Wrehantala meminta maaf pada Wratsangka, bukan maksud hati bertindak seperti itu, namun demi Wirata, mereka harus tetap maju, namun Wratsangka kecut hatinya. Kemudian Wrehantala menyarankan untuk tukar posisi, Wratsangka menjadi kusir sedangkan Wrehantala menjadi senapati. Wratsangka dibuatnya terheran-heran. Karena kondisi semakin mendesak, Wratsangka bersedia tukar posisi. Wrehantala mengambil senjata. Wratsangka kembali kaget setelah dilihatnya senjata-senjata Pandawa. Wrehantala menjelaskan bahwa dahulu ia diamanati untuk menjaga pusaka-pusaka itu. Wrehantala disuruhnya memilih salah satu dari pusaka-pusaka tersebut. Lalu Wrehantala memilih Gandewa. Tak henti-hentinya Wratsangka heran, karena yang dapat membentangkan senjata itu hanyalah cucunya, Arjuna. Disuruhnya untuk membentangkan Gandewa. Dan dari situlah dapat diketahui bahwa Wrehantala adalah Arjuna itu sendiri, Wratsangka merasa bersalah karena selama di Wirata, ia sudah memperlakukan Arjuna dengan kurang baik. Lalu arjuna menceritakan mengapa ia melakukan semua itu. Keduanya kemudian maju perang, Arjuna membentangkan Gandewanya. Kurawa dibuatnya kocar-kacir mendapat serangan panah dari Arjuna. Drona menangkap salah satu panah, ia tahu siapa pemilik dari panah itu dan memilih untuk kembali ke Istana. Duryudana terkena panah. Karna menagkap salah satu panah, ia kemudian tahu, bahwasanya saudara Pandawa berlindung di Wirata, ia berjanji tidak akan berkata kepada siapapun mengenai keberadaan mereka dan memilih untuk kembali ke Awangga.
            Adegan kerajaan Wirata. Prabu Matswapati, permaisuri dan segenap para punggawa merasa sangat bangga karena Wratsangka telah berhasil memukul mundur pihak musuh. Namun di tengah kebahagiaan itu, Dwijangka yang sejatinya adalah Puntadewa mengatakan yang sebenarnya, bahwa yang berhasil menghalu musuh sebenarnya bukan Wratsangka, namun Wrehantala. Prabu Matswapati seketika marah dan memukul Dwijangka dengan bokor, dari dahinya keluar darah putih, Salindri menampung darah putih dan berlinang airmata, mereka kemudian diusir. Belum hilang kemarahan prabu Matswapati, datanglah Wratsangka. Prabu kembali sumringah demi dilihatnya putranya yang dia dyga telah berhasil menghalau musuh. Namun seperti apa yang telah nyata terjadi, bahwa yang telah berhasil menghalau musuh itu bukanlah Wratsangka sendiri, namun Wrehantala. Prabu terheran-heran akan apa yang didengarnya, tidak percaya, dikiranya Wratsangka tengah berpura-pura.

            Pandawa dan Drupadi memasuki istana Wirata. Keenamnya sekarang mengakui penyamaran yang telah mereka lakukan. Prabu Matswapati merasa sangat menyesal, karena orang-orang yang telah disakitinya dalah cucunya sendiri para Pandawa dan kemudian maaf kepada para Pandawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar